LUKA
!
Wikanti
Sunaringtyas
Luka...
Mati. Sakit. Rusak. Hilang. Selamat
Tinggal.
Tak semua harus berakhir “Selamat
Tinggal”. Setiap luka yang ada akan tersembuhkan dengan sendirinya. Terprogram
untuk menyelamatkan jaringan dalam kematian. Memang ada bekas. Tapi bagaimana
sang manusia membuat perintah tak sadar agar jaringan bisa kembali sempurna?
Dan penyembuhan pun dimulai. Apa yang kita lakukan saat itu? Menari bahagia
terhadapnya? Atau jatuh cinta kepadanya?
Hanya hari biasa. Rekaman-rekaman lagu memutar setiap kejadian ulang waktu
itu seperti kumpulan lagu-lagu berdimensi lain yang membawaku dalam kengerian
sesaat yang sudah terlanjur menyiksa batin. Sekop-sekop yang tak henti
melubangi ragaku pelan-pelan dan menyakitkan ingatan. Dan ajakan-ajakan kata
tajam mencoba menusukku berulang-ulang kali dan tak ada rasa bosan tuk
berhenti.
Jam menyerukan waktu di mana saat
alunan-alunan penyiksaanku dimulai. Kepedihan merasuki jiwaku dan telah
merusaknya. Aku meringkuk di bawah kasur dan berfikir kembali kejadian tersebut
dengan sedikit imajinasi yang terkadang membuatku tertawa, mengangis, dan
marah. Dan sekarang aku hanya bisa bermain dengan otakku yang sudah rusak.
Karena aku tak berdaya dalam belenggu ruangan ini. Rumah Sakit Jiwa menghanyutkanku.
“Tik-Tok,,” seruku pelan.
Wahai angkasa
langit hitam, warna hitam warna kelam, tanpa bintang disaat malam, bawaku
pulang.
Mantraku
berhasil.
:;:
Gambaran buram menyatu dalam pecahan-pecahan
memori yang sempat hilang terkena morfin berlebih. Di saat itu aku kembali lagi
ke masa di mana semua ini akan terjadi. Satu suara menyeru di saatku hendak
layu.
Mukanya mengkerut dalam kesengsaraan.
Tangannya gemetar menahan sakit. Langkahnya terbata penuh perjuangan dalam
perlawanannya terhadap kelemahan. Rambutnya tipis dan menghilangkan mahkotanya.
Bibirnya pecah serta kehilangan warna semangat merah yang dulu ia punya. Aku
terpaku tak berdaya. Otakku memberi semacam sinyal tuk bertindak tetapi badanku
melemah terbawa kepanikan yang merasuk badan. Aku terpaku.
Tangisanku tak membuat semua ini
berubah. Takdirnya sudah berada di ujung terakhir pengharapan yang ada. Entah
apa yang ia harapkan, kematian adalah pilihan yang paling menyesakkan yang
tinggal ia punya.
Ia terjatuh lemah ke tanah, tak lupa
dengan tambahan darah yang ia semburkan dari mulut yang dulunya kering menjadi
ganas dengan warna darah. Aku terkaget dan sinyalku semakin membabi buta tuk
meraihnya. Tak sampai jatuh ke tanah, aku berhasil tuk membuatnya bersandar
manatapku dan menindurkan kepalanya dalam pangkuanku. Aku mencoba
mengangkatnya, tapi apa daya jika aku juga lemah. Dan waktu semakin menyita semua
ini.
Entah sebagaimanapun aku telah mencoba
kuat, hanya saja aku tak akan bisa menjadi kuat dalam situasi ini. Semua ini
semakin memberatkanku ketika ia mencoba berbisik, melawan kepedihan yang ada.
“D-di saat lu-luka menga-menganga,
mening-meniggalkan be-kas, tapi b-bisa tersembuhkan.” Lirihnya dalam
pangkuanku.
Aku semakin tak kuasa menahan segala
yang terjadi. Aku hanya ingin memohon untuknya, tapi apa? Pikiranku semakin
membunuh ragaku juga, melihatnya lemah semakin membuatku menjadi-jadi. Hingga aku
melihat senyumannya. Indah meluluhkan jiwa. Terlihat memaksa tetapi
mengharukan. Lalu pandangannya melihat ke langit bimasakti. Kosong dan hilang
perintah. Dan segelintik detik aku merasa, ia telah tiada.
Di
saat luka menganga, menggalkan bekas, tapi bisa tersembuhkan.
:;:
Nafasku semakin tak terkendali.
Jantungku memainkan parade kebingungan antara apa yang barusan terjadi.
Cengkraman tanganku menyatu harapan bisu yang tak akan pernah menyeru. Uphoria
otakku kembali kacau. Semacam aku memuntahkan hal kosong.
Aku kembali gila.
Dua sosok datang membawa mainan jahat.
Seperti biasa aku brutal. Berteriak di pusara lingkaran penuh malaikat tanpa
dosa. Mereka menusuk jarum suntik ke arahku. Aku semakin melawan tapi aku
melemah. Tapi pada akhirnya aku selalu berakhir tertawa dan pingsan. Dunia
memang lucu, ya?