Thursday, 4 September 2014

One Direction Fan Fiction

Jadi aku lagi buat cerita FF 1D, ada dua.. yang satu mungkin main streams yang satunya semi mainstream 



4 Definitions of Bella... • Maybe, Nerdy • Looks, Flat • Don't forget Mathletes Captain • and USUALLY in Glasses Niall... • Cool and good looking • Popular, also • The Basketball Capten • like ALWAYS in Sunglasses


2.  Fix You

... Kita bertaup nafas dengan semburan api cinta jinak dengan pengampunan putih tapi melekat dosa. Tetaplah indah dengan kengerian teriakan diam yang tak terbatas. Aku cinta tapi kau tidak cinta sang putih, tapi sang lembut kau peluk yang sudah terlajur halus meraup hilang. Dan akulah sang putih... :;: Peran Hayley memang tidak berat. Menjadi Clara Williams yang berstatus tunangan yang berkeharusan menikahi Niall dan berpura-pura mencintainya. Tapi setiap jalan dengan kebohongan pastilah tidak mudah. Lewat pesan-pesan Clara, Hayley pun belajar arti cinta melewati Niall. Apa Hayley bisa melewati hari dengan menerima bahwa Clara-lah yang sebenarnya dicintai Niall, bukan dirinya? ~And I will try... to FIX YOU 


Yap, kalo kalain punya wattpad sama suka,  FF ku, di tinggal vote sama commentsnya yaw ;)

Wednesday, 3 September 2014

(Cerita Fiksiku) LUKA!

LUKA !

Wikanti Sunaringtyas
         
          Luka...
          Mati. Sakit. Rusak. Hilang. Selamat Tinggal.
    Tak semua harus berakhir “Selamat Tinggal”. Setiap luka yang ada akan tersembuhkan dengan sendirinya. Terprogram untuk menyelamatkan jaringan dalam kematian. Memang ada bekas. Tapi bagaimana sang manusia membuat perintah tak sadar agar jaringan bisa kembali sempurna? Dan penyembuhan pun dimulai. Apa yang kita lakukan saat itu? Menari bahagia terhadapnya? Atau jatuh cinta kepadanya?


Hanya hari biasa. Rekaman-rekaman lagu memutar setiap kejadian ulang waktu itu seperti kumpulan lagu-lagu berdimensi lain yang membawaku dalam kengerian sesaat yang sudah terlanjur menyiksa batin. Sekop-sekop yang tak henti melubangi ragaku pelan-pelan dan menyakitkan ingatan. Dan ajakan-ajakan kata tajam mencoba menusukku berulang-ulang kali dan tak ada rasa bosan tuk berhenti.

Jam menyerukan waktu di mana saat alunan-alunan penyiksaanku dimulai. Kepedihan merasuki jiwaku dan telah merusaknya. Aku meringkuk di bawah kasur dan berfikir kembali kejadian tersebut dengan sedikit imajinasi yang terkadang membuatku tertawa, mengangis, dan marah. Dan sekarang aku hanya bisa bermain dengan otakku yang sudah rusak. Karena aku tak berdaya dalam belenggu ruangan ini. Rumah Sakit Jiwa menghanyutkanku.
           
“Tik-Tok,,” seruku pelan. 

Wahai angkasa langit hitam, warna hitam warna kelam, tanpa bintang disaat malam, bawaku pulang.

Mantraku berhasil.

:;:
            
Gambaran buram menyatu dalam pecahan-pecahan memori yang sempat hilang terkena morfin berlebih. Di saat itu aku kembali lagi ke masa di mana semua ini akan terjadi. Satu suara menyeru di saatku hendak layu.
           
Mukanya mengkerut dalam kesengsaraan. Tangannya gemetar menahan sakit. Langkahnya terbata penuh perjuangan dalam perlawanannya terhadap kelemahan. Rambutnya tipis dan menghilangkan mahkotanya. Bibirnya pecah serta kehilangan warna semangat merah yang dulu ia punya. Aku terpaku tak berdaya. Otakku memberi semacam sinyal tuk bertindak tetapi badanku melemah terbawa kepanikan yang merasuk badan. Aku terpaku.

Tangisanku tak membuat semua ini berubah. Takdirnya sudah berada di ujung terakhir pengharapan yang ada. Entah apa yang ia harapkan, kematian adalah pilihan yang paling menyesakkan yang tinggal ia punya.

Ia terjatuh lemah ke tanah, tak lupa dengan tambahan darah yang ia semburkan dari mulut yang dulunya kering menjadi ganas dengan warna darah. Aku terkaget dan sinyalku semakin membabi buta tuk meraihnya. Tak sampai jatuh ke tanah, aku berhasil tuk membuatnya bersandar manatapku dan menindurkan kepalanya dalam pangkuanku. Aku mencoba mengangkatnya, tapi apa daya jika aku juga lemah. Dan waktu semakin menyita semua ini. 

Entah sebagaimanapun aku telah mencoba kuat, hanya saja aku tak akan bisa menjadi kuat dalam situasi ini. Semua ini semakin memberatkanku ketika ia mencoba berbisik, melawan kepedihan yang ada.

“D-di saat lu-luka menga-menganga, mening-meniggalkan be-kas, tapi b-bisa tersembuhkan.” Lirihnya dalam pangkuanku.

Aku semakin tak kuasa menahan segala yang terjadi. Aku hanya ingin memohon untuknya, tapi apa? Pikiranku semakin membunuh ragaku juga, melihatnya lemah semakin membuatku menjadi-jadi. Hingga aku melihat senyumannya. Indah meluluhkan jiwa. Terlihat memaksa tetapi mengharukan. Lalu pandangannya melihat ke langit bimasakti. Kosong dan hilang perintah. Dan segelintik detik aku merasa, ia telah tiada.
           
Di saat luka menganga, menggalkan bekas, tapi bisa tersembuhkan.

:;:

Nafasku semakin tak terkendali. Jantungku memainkan parade kebingungan antara apa yang barusan terjadi. Cengkraman tanganku menyatu harapan bisu yang tak akan pernah menyeru. Uphoria otakku kembali kacau. Semacam aku memuntahkan hal kosong.

Aku kembali gila.
          
Dua sosok datang membawa mainan jahat. Seperti biasa aku brutal. Berteriak di pusara lingkaran penuh malaikat tanpa dosa. Mereka menusuk jarum suntik ke arahku. Aku semakin melawan tapi aku melemah. Tapi pada akhirnya aku selalu berakhir tertawa dan pingsan. Dunia memang lucu, ya? 
 

Sunday, 6 April 2014

Telling Story (Narrative Text)

Jadi, aku di suruh kayak telling story bwat Ujian Praktek alias UPRAK *aku-aja-gak-tw-knapa-nmanya-uprak* hehe bwt B.Inggris. Kalian kalo pake yang udh kucari boleh-boleh aja.
Option pertama ...
The Lion and The Hare

Once upon a time, a lion had been hunting for days without catching anything to eat. “It looks like I will go hungry again!” he thought.
Then he saw a hare fast asleep beneath a shady tree. He moved quietly towards it, thinking, “At last! Here is a delicious meal sitting and waiting for me!”
He was about to catch the hare when a fine young deer passing by. The lion thought, “Now there is an even better dinner!” He turned and chased the deer. The noise woke the hare and he quickly hopped away.
After a long chase, the lion failed to catch the deer. Tired out he came back looking for the hare, but found that it had run away.
“What a fool I am!” the lion said with his empty stomach growled.
“It is serves me right for loosing that was also mine, just for the chance of getting more!”


Option kedua ...

The Wind and The Sun

            The Wind and the Sun argued about which of them was the strongest. The Wind said, “I am so powerful that I can blow all clouds out of the sky.” The Sun said, “I am more powerful because I can heat up the sea below and this produce many more clouds.”
            For a long time, The Sun and The Wind went on arguing. Just then, they saw a boy walking along the road below. He was wearing a coat. The Wind suddenly had an idea. He said, “Let’s see who can get the coat off that boy’s back.” The Sun agreed.
The Wind started first. He blew hard as he could. He blew from behind and in front of the boy. The harder he blew, the more tightly the boy held on to his coat to keep it from blowing away. After a while, The Wind gave up.
Then, it was The Sun’s turn. It came out from behind the clouds and shone on the boy. The boy felt warm. After that, it began hotter and hotter. Soon, the boy could not stand the heat any longer. He took the coat off.And, the Sun won.